[RADIo_ONLINE]

JAdilah Pribadi yang Baik dan Berguna
widget

quote of the day

Korban pertama dari kebohongan adalah diri sendiri. Dlm waktu yg bersamaan kita memperbesar resiko untuk kehilangan kepercayaan dari org lain

#PrayForGaza

#PrayForGaza

Sabtu, 15 Maret 2014

Senin, 10 Maret 2014

1 Malaysia Airlines Aircraft Loss Mystery/Misteri Hilangnya Pesawat Malaysia Airlines

indocropcircle.com

Misteri Hilangnya Pesawat Malaysia Airlines


Berikut ini misteri hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS), dengan nomer penerbangan MH370 yang hilang sejak Sabtu (8/3/2014) dini hari pukul 01.40

1. Tak ada cuaca buruk dan bahan bakar cukup

CEO Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya menegaskan bahwa saat itu cuaca di lokasi kontak terakhir pesawat dengan menara pengawas lalu lintas di Subang, Malaysia dalam kondisi baik.

Tidak ada laporan cuaca buruk. Dia menolak kemungkinan bahawa pesawat tersebut kehabisan bahan bakar ketika dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing karena pesawat memiliki kapasitas mencukupi untuk terbang hingga pukul 8.30 pagi.

Sempat muncul spekulasi pesawat mendarat darurat di Nanning, China. Begitu pula muncul laporan militer Vietnam menangkap sinyal pesawat tetapi dua kabar itu dibantah.

2. Tidak ada panggilan darurat

Pesawat Malaysia Airlines MH 370 hilang dari radar sekitar pukul 01.30 dinihari, kurang sejam sejak lepas landas dari Kuala Lumpur International Airport. Boeing 777-200ER tidak mengirimkan panggilan darurat dari posisi terakhir hilang 120 mil laut dari Kota Bharu.


Pakar penerbangan mengaku kaget bagaimana mungkin pesawat yang disebut-sebut punya rekor keamanan paling bagus di dunia itu bisa hilang tanpa jejak. Pensiunan pilot Lim Khoy Hing dikutip The Star mengatakan, pilot terlatih untuk melakukan panggilan Mayday dalam kondisi darurat.


CEO Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya menegaskan, tidak ada panggilan darurat dari pilot. Ini menimbulkan dugaan, peristiwa pada pesawat itu terjadi sangat cepat.

3. Penumpang dengan paspor palsu

Dua orang yang namanya muncul dalam daftar manifest penumpang pesawat Malaysia Airline MH370 ternyata tidak di pesawat. Namun keduanya mengaku telah melaporkan paspor mereka dicuri.

Dua nama penumpang itu adalah Luigi Maraldi (37), warga Italia dan seorang warga negara Austria bernama Christian Kozel.

Para pejabat kementerian luar negeri di Roma dan Wina mengatakan, nama dua warga negara Italia dan Austria itu cocok dengan dua nama di daftar manifest penerbangan. Keduanya mengaku paspornya dicuri di Thailand.


Berikut gambar dua buah tiket pesawat yang diyakini telah dibeli untuk penerbangan Malaysia Airlines yang hilang dengan menggunakan paspor curian.





Tiket pesawat atas nama Luigi Maraldi yang diyakini telah dibeli untuk penerbangan Malaysia Airlines yang hilang dengan menggunakan paspor curian.





Tiket pesawat atas nama Christian Kozel yang diyakini telah dibeli untuk penerbangan Malaysia Airlines yang hilang dengan menggunakan paspor curian.

Pihak kepolisian interpol mengatakan bahwa kedua paspor yang dicuri tersebut, satu milik warga Austria, Christian Kozel dan yang satunya Luigi Maraldi warga Italia, keduanya sudah dimasukkan ke dalam database Interpol setelah pasport dicuri di Thailand pada tahun 2012 dan 2013 lalu.

Seperti dikutip dari Koran South China Morning Post, Pejabat Kementerian Luar Negeri Italia yang tak mau disebut nama, mengatakan bahwa Luigi Maraldi awalnya diyakini telah naik pesawat di Kuala Lumpur dan sedang melakukan perjalanan di Thailand.

“Dia telah melaporkan paspornya dicuri Agustus 2013 lalu,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Italia yang berbicara dengan syarat anonim.





Warga Italia, Luigi Maraldi, yang pasportnya pernah dicuri lalu digunakan oleh penumpang misterius untuk menaiki pesawat Malaysia yang hilang, sedang menunjukkan paspor terbarunya saat ia sedang melaporkan dirinya di kantor polisi di provinsi Phuket, Thailand Selatan pada hari Minggu (9/3/2014).


Luigi Maraldi disebut-sebut telah menelepon ke rumah setelah mendengar laporan bahwa namanya disebut-sebut masuk dalam daftar manifest pesawat.

Demikian pula Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Austria, Martin Weiss.

Dia menegaskan bahwa Christian Kozel, yang terdaftar di manifest cocok dengan paspor seorang warga Austria yang dilaporkan dicuri dua tahun lalu di Thailand. Siapa orang yang memakai paspor palsu itu masih tanda tanya. Maka isu tentang ancaman teroris pun merebak.

Namun dua penumpang diantara para penumpang gelap yang menggunakan paspor palsu saat naik pesawat Malaysia Airlines MH370 berhasil terekam kamera pemantau (CCTV) di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Rekaman itu akan digunakan untuk investigasi apakah keduanya terlibat dalam hilangnya pesawat MH370

“Kami punya rekaman CCTV saat mereka check in,” ujar Azharuddin Abdul Rahman, Direktur Jenderal Departemen Penerbangan Sipil (DCA) Malaysia, dikutip The Star.

Radar militer punya bukti pesawat Malaysia Airlines balik arah


Menteri Perhubungan Malaysia Hishammuddin Hussein mengatakan dia belum mengetahui laporan lengkap detik-detik hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370.

Namun radar militer menemukan bukti pesawat berbalik ke arah bandar udara internasional di Ibu Kota Kuala Lumpur namun pilot tidak melapor.

Situs the Malaysian Insider melaporkan, Minggu (9/3/2014), panglima angkatan udara Negeri Jiran Jenderal Tan Sri Datuk Sri Rodzali Daud mengklaim pihaknya mendapat sinyal pesawat berpenumpang 239 orang itu menukik balik ke arah bandara.

“Kami memiliki rekaman dan mendapati terjadi kemungkinan pesawat kembali ke Kuala Lumpur,” ujar Rodzali dalam jumpa pers.

Pihaknya bersama dengan pemerintah mencoba menyelidiki kasus ini. Mereka juga bekerja sama dengan dinas perhubungan antar bangsa.

Hal ini menambah kecemasan maskapai lantaran kasus hilangnya pesawat belum pernah terjadi.

Pilot berbalik arah tentu berarti ada bahaya hingga tidak meneruskan perjalanan. Biasanya setelah keputusan balik dibuat, mereka melapor ke menara kawalan perjalanan udara. Namun laporan ini tidak pernah ada. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya.

Kronologi Kejadian

Berikut kronologi hilangnya pesawat MH370 waktu Malaysia (sejam lebih cepat dari WIB:

Sabtu (8/3/2014)
00.41: Lepas landas dari KLIA dengan 239 penumpang termasuk dua bayi dan 12 awak kabin.
01.40: Sinyal MH370 dilaporkan hilang dari radar menara pemandu lalu lintas udara (ATC) Subang, Malaysia.
06.40: Jadwal tiba di Beijing.
10.15: Muncul rumor pesawat mendarat di Nanning, China. Rumor dibantah
11.55: Muncul kabar otoritas Vietnam menangkap sinyal pesawat.
12.00: Dalam jumpa pers di KLIA, CEO MAS Ahmad Jauhari Yahya menjelaskan ada warga negara dari 14 negara dalam pesawat. Disebutkan WNI berjumlah 12 orang.
12.30: MAS menyatakan, kontak terakhir dengan MH370 posisinya 120 mil laut dari Kota Bharu.
13.00: China mengirim dua kapal laut untuk membantu pencarian di Laut China Selatan
14.22: Kemlu Indonesia lewat juru bicara Michael Tene menyebut hanya ada 7 orang penumpang berkewarganegaraan Indonesia dalam Pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang.
15.00: Angkatan Laut Malaysia bersama dengan Vietnam berusaha mencari pesawat yang hilang di perairan Laut China Selatan.
15.30: MAS meminta kepada keluarga penumpang untuk berada di KLIA pada pukul 18.00 waktu setempat.
16.20: Pemerintah Vietnam memastikan bahwa MH 370 hilang di wilayah udara Vietnam.
18.00: Keluarga korban berkumpul di KLIA menanti kabar pencarian pesawat MH370.
18.00: Vietnam, Singapura, Filipina dan Amerika Serikat bergabung dalam operasi pencarian.
19.00: PM Malaysia Najib Tun Rasak menegaskan, wilayah operasi pencarian diperluas.
21.00: Vietnam melaporkan menemukan dua genangan minyak di wilayah Selatan perairan mereka, diduga dari pesawat yang jatuh ke air.
23.00: Dua orang yang namanya muncul dalam daftar manifest penumpang pesawat Malaysia Airline MH370 ternyata tidak di pesawat. Namun keduanya mengaku telah melaporkan paspor mereka dicuri. Dua nama penumpang itu adalah Luigi Maraldi (37) warga Italia, dan seorang warga negara Austria Christian Kozel.


Minggu (9/3/2014)
01.40: Setelah selama 24 jam sejak sinyal hilang, pesawat belum juga ditemukan.
05.00: Muncul pernyataan dari AS tentang dugaan teror berkait dengan paspor palsu yang digunakan penumpang.
07.00: The Star memberitakan, pemegang paspor palsu membeli tiket dari China Southern Airlines.

Sampai berita ini diturunkan, keberadaan Malaysia Airlines dengan nomer penerbangan MH370 jurusan Kuala Lumpur – Beijing masih misterius. Memang telah ditemukan adanya tumpahan minyak diperairan Vietnam oleh angkatan kaut Vietnam, namun tak ada satupun serpihan pesawat yang terlihat.





Terlihat tumpahan minyak yang ditemukan di perairan Vietnam. (EPA).

Hal ini diperkuat dengan pemberitaan Tuoi Tre, sebuah harian terkemuka di Vietnam, melaporkan bahwa Angkatan Laut Vietnam telah mengkonfirmasi pesawat telah jatuh ke laut.

Menurut Angkatan Laut Laksamana Ngo Van Phat, Komandan Region 5, radar militer mencatat bahwa pesawat itu jatuh ke laut di lokasi 153 km sebelah selatan pulau Phu Quoc.

Angkatan laut Malaysia dan sejumlah negara seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam, China, dan Amerika Serikat kompak mengerahkan kekuatan untuk mencari pesawat yang membawa 227 penumpang tersebut.

Dari pihak Malaysia juga meminta kepada TNI untuk membantu pencariannya. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut mengirim lima kapal perang dan satu helikopter untuk mencari pesawat Malaysia Airlines (MAS).


Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetio mengatakan, semua kapal perang yang dikerahkan akan bergabung dalam Komando Armada Indonesia Kawasan Barat Tentara Laut Indonesia.

“Saya sudah berhubungan dengan PanglimaTentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) Tan Sri Abdul Aziz Jaafar.

TLDM minta kita bantu mencari pesawat MAS yang dilaporkan tidak dapat dihubungi itu,” kata Marseti dilansir darithemalaysianinsider, Minggu (9/3/2014).

Kelima unit kapal perang tersebut antara lain, satu unit korvet atau KRI Sutanto, dan empat unit kapal patroli yaitu KRI Metafora, KRI Kait, KRI Siribhuah dan KRI Viper.

“Kami kerahkan kekuatan agar misi pencarian ini dapat menunjukkan hasil. Kami juga sentiasa berhubung dengan rekan antarabangsa dalam misi ini,” katanya. Karena belum ada serpihan pesawat, maka keberadaan genangan minyak yang mengambang diatas lautan, bukan berarti minyak tersebut berasal dari pesawat Malaysia Airlines.

Pesawat yang hilang pada hari Sabtu itu adalah berjenis Boeing 777-2H6ER dengan nomor ekor 9M-MRO dan nomor seri 28420. Menurut Fleet Week Database Aviation Intelligence Network, pesawat ini dibangun pada April 2002 dan dikirim ke Malaysia Airlines pada 31 Mei 2002.





KRI Sutanto 887 yang ikut bergabung dalam misi pencarian Malaysia Airlines yang masih hilang.

2 Bencana itu Berasal Dari .... lihat Hutan kita

#Bencana  itu berasal dari...

seperti yang ada di gambar ini..






Pagi ini aktivis Greenpeace beraksi membentangkan spanduk besar bertuliskan "Head & Shoulders melenyapkan hutan hujan" di tengah konsesi PT Multi Persada Gatramegah (MPG) milik Musim Mas Grup yang memasok minyak sawit untuk Procter & Gamble pembuat sampo terkenal Head & Shoulders, di Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Seperti yang bisa kamu lihat, praktik penghancuran telah terjadi dan hutan Kalimantan yang bernilai konservasi tinggi dibelakang para Aktivis terancam dihancurkan untuk ekspansi perkebunan yang tidak bertanggung jawab.
Greenpeace mendesak Procter & Gamble untuk berhenti terlibat perusakan hutan dan menerapkan kebijakan nol deforestasi yang kuat untuk menjaga masa depan hutan Indonesia. Sudah saatnya pembangunan perkebunan sawit nasional berubah dan tidak seharusnya terus merusak hutan dan berkonflik dengan masyarakat.
Kamu juga bisa katakan kepada Head & Sholders untuk berhenti menghapus hutan Indonesia di : http://dirtysecret.greenpeace.org/id-ID

Sabtu, 08 Maret 2014

0 Malaysian airlines missing plane: Vietnam spots oil slicks; two Canadians on board





KUALA LUMPUR, MALAYSIA—Vietnamese air force planes on Saturday spotted two large oil slicks in the area where a Malaysia Airlines Boeing 777 vanished earlier in the day, the first sign that the aircraft carrying 239 people on board, including two Canadians, had crashed.


The air force planes were part of a multinational search operation launched after Flight MH370 fell off radar screens less than an hour after it took off from Kuala Lumpur for Beijing early Saturday morning.


A Vietnamese government statement said the slicks were spotted late Saturday off the southern tip of Vietnam and were each between 10 kilometres and 15 kilometres long. There was no confirmation that the slicks were related to the missing plane, but the statement said they were consistent with the kinds that would be produced by the two fuel tanks of a crashed jetliner.

Two-thirds of the missing plane’s passengers were from China, while others were from elsewhere in Asia, North America and Europe.

Malaysia Airlines CEO Ahmad Jauhari Yahya said there was no indication that the pilots had sent a distress signal, suggesting that whatever happened to the plane occurred quickly and possibly catastrophically.

A relative of a passenger onboard Malaysia Airlines flight MH370 is surrounded by the media at Lidu Hotel on March 8, 2014 in Beijing, China.zoom

At Beijing’s airport, authorities posted a notice asking relatives and friends of passengers to gather at a nearby hotel to wait for further information, and provided a shuttle bus service. A woman wept aboard the bus while saying on a mobile phone, “They want us to go to the hotel. It cannot be good.”

Relatives and friends of passengers were escorted into a private area at the Lido Hotel, and reporters were kept away. A man in a grey hooded sweatshirt later stormed out complaining about a lack of information. The man, who said he was a Beijing resident but declined to give his name, said he was anxious because his mother was on board the flight with a group of 10 tourists.

“We have been waiting for hours and there is still no verification,” he said.

The plane was last detected on radar at 1:30 a.m. (1730 GMT Friday) around where the South China Sea meets the Gulf of Thailand, authorities in Malaysia and Vietnam said.

Lai Xuan Thanh, director of Vietnam’s civil aviation authority, said air traffic officials in the country never made contact with the plane.

The plane “lost all contact and radar signal one minute before it entered Vietnam’s air traffic control,” Lt. Gen. Vo Van Tuan, deputy chief of staff of the Vietnamese army, said in a statement.

The South China Sea is a tense region with competing territorial claims that have led to several low-level conflicts, particularly between China and the Philippines. That antipathy briefly faded as China, the Philippines, Vietnam, Singapore and Malaysia all sent ships and planes to the region.

Malaysian Prime Minister Najib Razak said that Malaysia had dispatched 15 planes and nine ships to the area, and that the U.S. navy was sending some planes as well. Singapore, China and Vietnam also were sending aircraft.

It’s not uncommon for it to take several days to find the wreckage of aircraft floating on the ocean. Locating and then recovering the flight data recorders, vital to any investigation, can take months or even years.

“In times of emergencies like this, we have to show unity of efforts that transcends boundaries and issues,” said Lt. Gen. Roy Deveraturda, commander of the Philippine military’s Western Command.

Thanh said Malaysian, Singaporean and Vietnamese search officials were co-ordinating operations in an 11,200-square-kilometre area where the plane was last known to be. He said Vietnamese fishermen in the area were asked to report any suspected sign of the missing plane.

The air search was suspended for the night and was to resume Sunday morning, while the sea search was ongoing, the airline said.

The plane was carrying 227 passengers, including two infants, and 12 crew members, the airline said. It said there were 152 passengers from China, 38 from Malaysia, seven from Indonesia, six from Australia, five from India, three from the U.S., two from Canada and others from Indonesia, France, New Zealand, Ukraine, Russia, Italy, Taiwan, the Netherlands and Austria.

In Kuala Lumpur, family members gathered at the airport, but were kept away from reporters.

“Our team is currently calling the next of kin of passengers and crew. Focus of the airline is to work with the emergency responders and authorities and mobilize its full support,” said Yahya, the airline CEO. “Our thoughts and prayers are with all affected passengers and crew and their family members.”

Fuad Sharuji, Malaysia Airlines’ vice president of operations control, told CNN that the plane was flying at an altitude of 10,670 meters and that the pilots had reported no problem with the aircraft.

Asked whether terrorism was suspected, Malaysian Transport Minister Hishammuddin Hussein said authorities had “no information, but we are looking at all possibilities.”

Malaysia Airlines has a good safety record, as does the 777, which had not had a fatal crash in its 19-year history until an Asiana Airlines plane crashed in San Francisco in July 2013, killing three passengers, all teenagers from China.

Airliner “black boxes” — the flight data and cockpit voice recorders — are equipped with “pingers” that emit ultrasonic signals that can be detected underwater. Under good conditions, the signals can be detected from several hundred miles away, said John Goglia, a former member of the U.S. National Transportation Safety Board. If the boxes are trapped inside the wreckage, the sound may not travel as far, he said. If the boxes are at the bottom of an underwater trench, that also hinders how far the sound can travel. The signals also weaken over time.

Air France Flight 447, with 228 people on board, disappeared over the Atlantic Ocean en route from Rio de Janeiro to Paris on June 1, 2009. Some wreckage and bodies were recovered over the next two weeks, but it took nearly two years for the main wreckage of the Airbus 330 and its black boxes to be located and recovered.

Malaysia Airlines said the 53-year-old pilot of Flight MH370, Zaharie Ahmad Shah, has more than 18,000 flying hours and has been flying for the airline since 1981. The first officer, 27-year-old Fariq Hamid, has about 2,800 hours of experience and has flown for the airline since 2007.

The tip of the wing of the same Malaysian Airlines Boeing 777-200 broke off Aug. 9, 2012, as it was taxiing at Pudong International Airport outside Shanghai. The wingtip collided with the tail of a China Eastern Airlines A340 plane. No one was injured.

Malaysia Airlines’ last fatal incident was in 1995, when one its planes crashed near the Malaysian city of Tawau, killing 34 people. The deadliest crash in its history occurred in 1977, when a domestic Malaysian flight crashed after being hijacked, killing 100 people.

In August 2005, a Malaysian Airlines 777 flying from Perth, Australia, to Kuala Lumpur suddenly shot up 900 meters (3,000 feet) before the pilot disengaged the autopilot and landed safely. The plane’s software had incorrectly measured speed and acceleration, and the software was quickly updated on planes around the world.
Malaysia Airlines has 15 Boeing 777-200s in its fleet of about 100 planes. The state-owned carrier last month reported its fourth straight quarterly loss and warned of tougher times.

Chris Brummitt reported from Hanoi, Vietnam. Didi Tang and video producer Aritz Parra in Beijing, Stephen Wright in Bangkok, Jim Gomez and Oliver Teves in Manila, Philippines, Joan Lowy in Washington, and Scott Mayerowitz in New York contributed to this report.

Jumat, 07 Maret 2014

0 PM Malaysia minta semua cara dikerahkan cari MH370

Jakarta (ANTARA News) - Atas peristiwa kehilangan kontak pesawat terming Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370, Sabtu ini, Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak, meminta semua cara dikerahkan untuk mencari pesawat terbang itu. 

Dari situs Strait Times yang dikutip di Jakarta, Sabtu siang, dia menyatakan kepada pers setempat, "Perhatian penuh dan doa kami panjatkan untuk semua keluarga penerbangan MH370 itu. Saya meminta semua cara dikerahkan (untuk mencari)."

Sebelumnya CEO Malaysia Airlines di Kuala Lumpur, Sabtu siang, MH370 dinyatakan hilang kontak sejak masih dalam pengendalian Pengendali Ruang Udara Bandara Subang, Malaysia, pada pukul 02.41 waktu setempat. 

Seharusnya, MH370 yang bertipe pesawat terbang Boeing B-777-200 sudah mendarat di Beijing pada pukul 06.30 waktu setempat, dengan cadangan bahan bakar yang memungkinkan dia masih bisa terbang hingga pukul 08.30 waktu setempat. 

Malaysia Airlines mengoperasikan rute Kuala Lumpur-Beijing berdasarkan kerja samacodeshare dengan China Southern Airlines, yang berjalan secara resiprokal. 

Malaysia Airlines mengumumkan nomor-nomor kontak informasi resmi yang bisa dihubungi pihak berkepentingan terkait peristiwa ini, yaitu: +603 7884 1234 atau 03 8787 1269 yang berbasis di Gedung Fasilitas Pendukung Kawasan Selatan Bandara Internasional Kuala Lumpur. 

" suara gemuruh hati ku " by: D'd'vinha

Andai bisa ku satukan seluruh tepian pantai,,,
kan qu katakan padamu,,,
Izinkan ia menjadi satu dermaga Cinta untuk menantimu,,,
Agar aku bisa menjadi camar-camar di Lautan,,
Yang kan hinggap di hatimu,,,

Saat malam telah datang,,,
Karna di hatiku hanya nama mu yang ku rangkai,,,
dengan sebuah Rindu yang terlalu..